Persiapan Bahan dan Alat
Langkah pertama dalam pembuatan pupuk organik adalah menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan. Untuk pupuk dari sabut kelapa, bahan utamanya tentu adalah sabut kelapa segar atau yang sudah kering. Selain itu bahan tambahan seperti dedak padi, kotoran hewan (ayam, sapi atau kambing) dan EM4 (Effective Microorganisms) sangat disarankan untuk mempercepat proses pengomposan.
Alat yang diperlukan juga relatif sederhana, antara lain:
- Parang atau pisau untuk memotong sabut kelapa
- Ember atau wadah besar untuk pencampuran
- Selang atau alat penyiram untuk menjaga kelembapan
- Terpal atau plastik untuk menutup tumpukan kompos
Pemotongan dan Perajangan Sabut Kelapa
Sabut kelapa memiliki tekstur yang keras dan berserat tebal, agar proses pengomposan lebih cepat, sabut kelapa perlu dipotong atau dirajang menjadi potongan kecil sekitar 5–10 cm. Pemotongan ini bertujuan untuk memperluas permukaan sabut sehingga mikroorganisme yang membantu dekomposisi dapat bekerja lebih efektif.
Selain itu sabut kelapa yang sudah dirajang akan lebih mudah menyerap air dan bahan tambahan lain sehingga proses fermentasi menjadi lebih merata.
Pencampuran dengan Bahan Tambahan
Setelah sabut kelapa dipotong, langkah berikutnya adalah mencampurnya dengan bahan organik lain. Dedak padi atau bekatul dapat menjadi sumber karbon tambahan, sedangkan kotoran hewan berperan sebagai sumber nitrogen yang penting untuk pertumbuhan mikroba. Perbandingan ideal antara sabut kelapa dan kotoran hewan biasanya 2:1.
Selain itu penambahan EM4 atau cairan mikroba efektif sangat disarankan. Larutan EM4 membantu mempercepat proses penguraian bahan organik menjadi humus sekaligus mencegah bau tidak sedap. Setelah semua bahan dicampur, aduk hingga merata.
Proses Fermentasi atau Pengomposan
Campuran bahan organik kemudian ditempatkan di atas terpal atau di dalam wadah khusus untuk proses fermentasi. Tumpukan harus dijaga agar tetap lembap, namun tidak terlalu basah. Kelembapan ideal berada di sekitar 50–60%. Jika terlalu kering mikroba tidak dapat berkembang, jika terlalu basah proses pengomposan bisa menjadi lambat dan berbau.
Tumpukan sebaiknya ditutup dengan terpal atau plastik agar suhu dan kelembapan terjaga. Setiap 5–7 hari, aduk tumpukan kompos untuk mempercepat proses dekomposisi. Proses ini biasanya berlangsung antara 4–6 minggu, tergantung suhu lingkungan dan kandungan bahan. Kompos akan matang ketika warna berubah menjadi gelap, tekstur menjadi gembur dan tidak ada bau amonia yang tajam.
Pengayakan dan Penyimpanan
Setelah proses fermentasi selesai, pupuk organik dari sabut kelapa perlu diayak untuk memisahkan partikel kasar yang belum terdekomposisi. Partikel kasar ini bisa disimpan kembali untuk difermentasi ulang atau dicampur ke tumpukan baru.
Pupuk yang sudah halus dapat disimpan di tempat kering dan teduh. Jika disimpan dengan baik, pupuk organik ini bisa bertahan hingga beberapa bulan tanpa menurunkan kualitasnya.
Penggunaan Pupuk Organik dari Sabut Kelapa
Pupuk organik yang dihasilkan dari sabut kelapa kaya akan serat, humus dan unsur hara yang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk ini bisa digunakan untuk berbagai jenis tanaman, baik sayuran, buah-buahan maupun tanaman hias. Pemberian pupuk sebaiknya dilakukan secara merata di sekitar akar tanaman untuk memastikan penyerapan nutrisi maksimal.